Portal Lengkap Dunia Restoran, Konsultasi dan Training SDM Restoran

Etika Pelayanan : Bolehkah Waiter Menjinjing Tray Kosong?

Banyak sebutan untuk perlengkapan kerja waiter yang satu ini. Ada yang menyebutnya nampan, ada yang menyebutnya baki, dan ada yang menyebutnya dengan  tray. Untuk membiasakan penyebutan - dalam artikel ini - saya akan lebih banyak menggunakan kata  tray.


Setiap hari, waiter selalu lekat dengan tray yang berfungsi sebagai tampat untuk membawa pesanan (makanan dan minuman) yang akan disajikan ke meja tamu. Dalam prakteknya, seringkali tray dibawa dengan cara dijinjing saat tray dalam keadaan kosong setelah digunakan untuk mengantar pesanan.

Etika pelayanan membawa tray

Saat membawa tray, kita diharuskan untuk meletakkan tray di atas telapak tangan kiri yang kita buka lebar. Dengan demikian, tray akan selalu berada di atas telapak tangan saat kita membawanya. Lalu bagaimana dengan menjinjing tray kosong?

Dalam etika pelayanan, tray tetap dibawa dengan diletakkan di atas telapak tangan kiri, baik saat tray digunakan untuk mengantar pesanan maupun saat tray tersebut telah kosong.

Efek membawa tray dengan cara dijinjing

Selain tidak sesuai dengan etika pelayanan, membawa tray dengan cara dijinjing juga memiliki efek negatif, yaitu jatuhnya cairan (air atau kuah) dan remah makanan yang ada di permukaan tray ke lantai. Dengan demikian, lantai menjadi kotor dan licin. Selain mengundang datangnya lalat, lantai yang licin juga bisa membahayakan waiter sendiri serta orang lain.

Jadi, mulai sekarang kita harus konsisten untuk membawa tray sesuai dengan teknik membawa tray yang benar dan sesuai dengan etika pelayanan.

Anda juga bisa membaca artikel : Cara Membawa Nampan yang Baik dan Benar

Demikian artikel tentang etika pelayanan : bolehkah waiter menjinjing tray yang sudah kosong?. Semoga bermanfaat.

3 Hal yang Mempengaruhi Keramahan Karyawan Restoran Kepada Pelanggan

Semua pemilik restoran sudah tentu menginginkan agar setiap karyawannya dapat memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan, termasuk dalam hal keramahan. Namun kenyataannya, banyak sekali karyawan restoran yang tidak bisa melakukannya karena "terkondisi" oleh sistem yang diterapkan oleh manajemen dan kenyamanan yang tidak dirasakan karyawan saat bekerja.

Berdasarkan pengamatan penulis, ada 3 hal yang mempengaruhi keramahan karyawan restoran kepada pelanggan. 3 hal ini sangat penting untuk diketahui, baik oleh karyawan maupun manajemen restoran dalam melakukan perbaikan kualitas layanan dalam hal keramahan.


Berikut 3 hal yang mempengaruhi keramahan karyawan kepada pelanggan :

1. Pemahaman akan pentingnya pelanggan
Banyak karyawan restoran yang tidak begitu peduli kepada pelanggan. Mereka tidak paham bahwa sebenarnya pelanggan lah yang memberinya gaji setiap bulan. 

Kurangnya pemahaman akan pentingnya pelanggan membuat karyawan bekerja ala kadarnya, yang penting tugas-tugas selesai dikerjakan, soal ramah kepada pelanggan tidak begitu diperhatikan.

2. Internal Quality Service
Pelayanan ke dalam atau Internal Quality Service (IQS) sangat berpengaruh terhadap cara karyawan dalam melayani dan berinteraksi dengan pelanggan. Prinsip IQS adalah membuat karyawan tersenyum lebih dulu sehingga karyawan bisa memberikan senyum dan keramahannya untuk pelanggan.

IQS yang diberikan perusahaan bisa berupa gaji yang layak, jenjang karir, dan aturan-aturan atau kebijakan yang memberi rasa nyaman dan meningkatkan kesejahteraan karyawan.

Selengkapnya tentang Internal Quality Service, Anda bisa membaca artikel : Internal Quality Service

3. Tekanan
Tekanan atau pressure yang diberikan oleh owner maupun manajer operasional juga sangat berpengaruh terhadap cara karyawan dalam bekerja dan melayani pelanggan. Tekanan yang berlebihan akan membuat suasana kerja menjadi tegang, karyawan bekerja dengan rasa takut; takut salah, takut kena marah, takut dipecat dan lain-lain.

Tekanan bisa berdampak baik dalam pencapaian target kerja, misalnya harus lebih bersih, harus lebih cepat dan lain-lain. Namun jika tidak dibarengi dengan penciptaan suasana yang menyenangkan, maka tekanan yang ada hanya akan membuat karyawan tak bisa tersenyum.

Alih-alih memberikan tekanan, jauh lebih baik untuk secara terus menerus menumbuhkan pemahaman akan tujuan perusahaan, pentingnya pelayanan, manfaat disiplin, manfaat pengembangan diri dan lain-lain yang nantinya akan membuat karyawan bekerja dengan kegairahan.

Demikian artikel tentang 3 hal yang mempengaruhi keramahan karyawan restoran kepada pelanggan. Semoga bermanfaat. 

Etika Pelayanan : 8 Hal yang Tidak Boleh Dilakukan Waiter Saat Berada di Floor

Untuk mewujudkan pelayanan atau service yang baik, waiter tak hanya diharuskan untuk mampu memahami dan menjalankan SOP (Standart Operational Procedure) dengan baik, namun perlu juga dibekali dengan pengetahuan tentang etika pelayanan. 

Etika pelayanan merupakan hal-hal berisi anjuran mengenai hal-hal baik yang perlu dilakukan dan hal-hal kurang baik yang harus dihindari. Etika pelayanan dibuat untuk memberikan pengalaman yang baik bagi pelanggan selama mereka berada di restoran.


Berikut adalah 8 hal yang tidak boleh dilakukan oleh waiter saat berada di floor atau di area di mana mereka berinteraksi dengan pelanggan dan pelanggan dapat melihat apa saja yang mereka lakukan :

1. Menggaruk kepala berulang-ulang
Aktivitas menggaruk kepala saat berada di floor akan memberi kesan bahwa waiter kurang memperhatikan kebersihan rambut mereka. 

2. Meludah
Membuang ludah saat berada di floor merupakan hal yang tidak pantas dilakukan. Saat pelanggan melihat ada waiter yang meludah di floor, bisa jadi pelanggan akan kehilangan selera makannya.

3. Mengupil
Waiter harus menahan diri dari aktivitas mengupil selama berada di floor. Aktivitas mengupil bisa memberi kesan bahwa tangan waiter tidak higienis, meskipun setelahnya sang waiter mencuci tangannya.

4. Mengorek kuping
Membersihkan telinga dengan cara mengoreknya dengan tangan sama halnya dengan mengupil. Keduanya tidak boleh dilakukan oleh waiter selama mereka berada di floor.

5. Menguyah makanan
Aktivitas menguyah tidak boleh dilakukan oleh waiter saat mereka berada di floor. Kebiasaan menguyah permen karet juga termasuk hal yang dilarang dalam hal ini.

Ada beberapa head service yang saya kenal mengizinkan waiternya untuk menhisap permen dengan alasan agar bau mulut waiter tercium segar saat berinteraksi dengan tamu, namun kenyataannya, aktivitas mengemut permen seringkali malah membuat sang waiter susah berkomunikasi dengan pelanggan.

6. Berteriak
Berbicara dengan suara keras atau bahkan berteriak adalah hal yang harus dihindari. Seorang waiter harus selalu menjaga etika karena setiap apa yang dilakukannya akan membentuk kesan dalam pikiran pelanggan, baik positif maupun negatif.

Selain tidak pantas dilakukan, berteriak juga dapat mengganggu kenyamanan pelanggan.

7. Berlari
Waiter memang dituntut untuk dapat bergerak cepat, namun bukan tergesa-gesa atau  berlari. 

8. Menatap pelanggan dengan tidak sopan
Siapapun akan tidak suka jika ditatap dengan tatapan yang tidak sopan, misalnya saat ada pelanggan wanita yang cantik dan berpakaian seksi, waiter tidak boleh menatapnya terus menerus atau mencuri-curi pandang.

Demikian artikel tentang etika pelayanan : 8 hal yang harus dihindari oleh waiter selama berada di floor. Semoga bermanfaat.

Perlukah Kita Memasukkan Point Kejujuran Karyawan Pada CPL?

Untuk mengukur kinerja karyawan, biasanya kita menggunakan CPL (Check Performance List) yang nantinya akan diisi oleh Supervisor dan menjadi dasar evaluasi. Ada beberapa point yang dinilai dalam CPL, seperti pengetahuan prosedur (SOP), sikap, kedisiplinan, kejujuran, ketrampilan, kerja sama dan hal-hal lain yang ditambahkan sesuai kebutuhan manajemen restoran.

Pertanyaannya, perlukan kita memasukkan point kejujuran pada CPL? jika kejujuran harus kita masukkan pada CPL, lalu bagaimana cara kita mengukur kejujuran seseorang?.

Standar penilaian CPL

Untuk memberikan penilaian pada CPL, kita harus menentukan terlebih dahulu standar nilai yang akan digunakan. Penilaian pada CPL biasanya terdiri dari 4 tingkat penilaian, yaitu :
  • Istimewa (ditulis dengan angka 4)
  • Baik (ditulis dengan angka 3)
  • Kurang baik (ditulis dengan angka 2)
  • Buruk (ditulis dengan angka 1)
Mengukur kejujuran seseorang


Kejujuran adalah hal yang sangat penting, bahkan tidak bisa ditawar-tawar. Saat kita ingin mempromosikan seorang karyawan sebagai seorang Kasir misalnya, maka kita pasti akan bertanya kepada Supervisor atau karyawan lainnya mengenai kredibilitas karyawan tersebut, yang tentu salah satu aspeknya adalah kejujuran. 

Jadi, bagaimana pun kejujuran tetap harus kita masukkan ke dalam CPL dan menyerahkannya kepada Supervisor untuk dilakukan penilaian. Dalam proses berjalannya waktu, Supervisor pasti akan dapat menilai seberapa baik kejujuran setiap karyawannya.

Dalam hal ini, ukuran yang dapat kita jadikan acuan dalam menilai kejujuran seorang karyawan adalah rekam jejak atau track record. Dalam periode 1 bulan, seorang Supervisor pasti sudah mulai dapat memberikan penilaian untuk point kejujuran karyawan.

Akan ditemui banyak kasus yang dapat mencerminkan seberapa baik kejujuran seorang karyawan, misalnya saja saat ia memberikan sebuah keterangan dan lalu kita melakukan pengecekan akan kebenaran keterangannya, atau kita melihat kesesuaian antara ucapan dan perbuatannya.

Cara memberikan penilaian kejujuran

Bagi karyawan yang kita ketahui pernah berbohong, maka kita bisa memberikan nilai 2 yang berarti karyawan kurang jujur. Bagi karyawan yang kita ketahui sering berbohong, kita bisa memberikan nilai 1 yang berarti bahwa karyawan tidak jujur. Sementara bagi karyawan yang belum pernah kita ketahui berbohong, kita bisa memberinya angka 3 yang berarti bahwa karyawan memiliki kejujuran yang baik. Angka 4 atau istimewa kita berikan kepada karyawan yang memang telah teruji kejujurannya.

Bagaimana jika Supervisor subjektif dalam memberikan penilaian?

Dalam memberikan penilaian pada CPL, Supervisor tidak melakukannya sendirian, tapi juga dengan mendengarkan pendapat dari leader lain seperti Captain Service dan Chief Cook. Dengan demikian, penilaian tetap dapat dilakukan secara objektif.

Jika kemudian kita masih meragukan hasil penilaian yang dilakukan oleh Supervisor, maka masalahnya bukan pada Supervisor, melainkan pada kita sendiri. Kita telah mengalami ketidak-percaya-an kepada mitra kerja atau telah merasa salah dalam menunjuk atau mengangkat seorang Supervisor.

Bagaimana pun Supervisor lah yang paling tahu kondisi di lapangan dan setiap hari bersentuhan dengan karyawan. Dengan demikian, Supervisor harus lah seorang yang bisa kita percaya dan andalkan.

Kejujuran itu situasional?

Seseorang memiliki pembantu rumah tangga yang telah bekerja cukup lama. Suatu saat, sang pembantu membutuhkan uang untuk biaya berobat anaknya yang tengah sakit. Akhirnya kesempatan datang, dompet milik saudara majikannya tertinggal saat datang bertamu. Sang pembantu mengambil dompet tersebut dan menggunakannya untuk berobat anaknya.

Dari contoh kasus di atas, apakah kita masih dapat mengatakan bahwa sang pembantu tersebut jujur? tentu tidak.

Kejujuran seseorang akan teruji oleh waktu dan diabadikan dalam rekam jejak kehidupan seseorang. Kejujuran tidaklah situasional atau kondisional, kejujuran adalah hal yang mutlak. Sebagai contoh, bapak Mar`ie Muhammad tidak akan digelari Mr. Clean andaikan beliau tidak jujur sepanjang karirnya sebagai Menteri Keuangan bukan?

Sistem yang baik tetap membutuhkan SDM yang jujur

Mungkin kita bisa mengabaikan point kejujuran dan memilih untuk lebih menguatkan sistem. Dengan kata lain, kita membuat sistem yang tidak memberi celah kepada seseorang untuk berbuat tidak jujur. Pertanyaannya, apakah ada sistem yang sempurna tanpa celah?.

Orang yang tidak jujur akan berusaha mencari celah sistem, sementara orang yang jujur justru akan menginformasikan celah sistem yang ia temukan. Jadi mana yang kita pilih?.

Prinsip the right man on the right place tidaklah hanya tantang kemampuan teknis semata, tapi juga non teknis termasuk kejujuran. Memilih SDM yang jujur adalah sebuah prioritas disamping kita terus menguatkan sistem.

Anda juga bisa membaca artikel : Koki, Standar Resep dan Pelatihan Memasak

Demikian artikel tentang perlunya memasukkan point kejujuran karyawan pada CPL atau penilaian kinerja karyawan. Semoga bermanfaat.

Koki, Standar Resep dan Pelatihan Memasak

Semua koki di setiap restoran pastinya sudah menjalani pelatihan memasak, baik dibimbing oleh seniornya, maupun langsung ditangani oleh Chef. Setelah dinilai mampu, para koki ini akan dilepas, artinya pengawasan terhadap proses memasak yang mereka lakukan mulai dikurangi. Namun ternyata, setelah beberapa bulan berlalu, masakan yang dibuat mulai berubah, tak lagi sesuai dengan yang diajarkan. Padahal, standar resep juga sudah di print dan ditempel di area kitchen.

Setiap menu pasti sudah ada standar  kualitasnya, baik rasa, warna, porsi, garnish dan cara penyajiannya. Untuk memenuhi standar kualitas menu yang sudah ditentukan tidak lah mudah. Perlu komitmen dan kesadaran yang tinggi dari setiap koki akan pentingnya standar kualitas menu.


Masalah yang kemudian sering timbul adalah, koki tergoda untuk mengambil langkah mudah saat ditemukan kendala, misalnya saat tidak ada bawang goreng, soto dan nasi goreng disajikan saja tanpa bawang goreng. Saat tidak ada daun sop, sop pun disajikan saja tanpa daun sop. 

Dalam kasus lain, koki juga mengambil langkah cepat saat diburu pesanan yang menumpuk. Misalnya untuk menu yang harus dipanaskan terlebih dahulu sebelum disajikan, dibiarkan saja disajikan tanpa dihangatkan. Tentu masih banyak lagi contoh kasus lain dimana koki tergoda untuk mengabaikan standar kualitas saat menemukan sebuah kendala.

Ada juga koki yang berinisiatif mengubah resep tanpa sepengetahuan Chef, misalnya saat tidak ada Asam Jawa untuk kuah Sayur Asam, sang koki menggantinya dengan Tomat. 

Apa yang harus dilakukan agar koki selalu mematuhi standar resep menu?

Berikut adalah beberapa tips yang bisa kita lakukan agar koki selalu mematuhi standar resep menu yang telah kita tentukan :

1. Lakukan pelatihan memasak secara berkelanjutan
Kita sering berpikir bahwa dengan memberikan pelatihan memasak selama 1 atau 2 minggu, maka para koki akan mengerti, hafal dan selalu memasak sesuai yang kita ajarkan dalam pelatihan. Persepsi seperti ini tidak tepat.

Di beberapa kasus, saat kemudian ditemukan kesalahan, beberapa orang mengatakan bahwa pelatihan memasak yang dibuat telah gagal. Padahal, pelatihan itu seyogyanya dilakukan terus-menerus, terjadwal, berkelanjutan.

2. Berikan reward & punishment
Kita harus mengapresiasi koki yang memiliki kinerja baik dalam hal standar kualitas. Bisa dengan mengadakan "Cook of the Month" dimana kita menentukan 1 atau 2 koki terbaik setiap bulan untuk menerima hadiah.

Bagi koki yang terbukti mengabaikan standar resep menu, ia bisa diberikan hukuman, misalnya dengan SP 1 atau bentuk punishment lainnya yang mendidik.

3. Aktifkan briefing harian
Breifing merupakan media komunikasi internal dimana kita bisa selalu mengingatkan akan pentingnya standar kualitas masakan. 

Anda juga bisa membaca artikel : Fungsi dan Manfaat Briefing Karyawan

4. Mengadakan tes kompetensi cook
Tes atau uji kompetensi cook dibuat agar kita bisa melakukan seleksi ketat siapa saja dari koki yang memang kompeten dan yang tidak. Tes kompetensi cook bisa kita adakan setiap 3 bulan sekali. Tesnya terdiri dari tes teori dan praktek.

Bagi yang tidak lulus uji kompetensi, maka ia bisa dialihkan ke posisi atau bagian lain yang lebih cocok berdasarkan prinsip the right man on the  right place.

5. Berikan akses dan kemudahan untuk menjaga stock
Agar koki bisa selalu memasak sesuai standar menu yang kita tetapkan, maka kita juga harus memperhatikan ketersediaan stock bahan masakan. Kita bisa menugaskan stock keeper atau petugas gudang untuk selalu mempertahankan ketersediaan bahan masakan.


Demikian artikel tentang koki, standar resep dan pelatihan memasak. Semoga bermanfaat.

FinTech dan Kesiapan Restoran Dalam Mengadopsi Inovasi Sistem Pembayaran di Era Digital

Kemajuan teknologi telah turut memberikan andil dalam kemajuan di bidang finansial, sebut saja dalam hal kemudahan proses pembayaran. Baru-baru ini muncul sebuah istilah baru, yaitu FinTech yang sangat erat kaitannya dengan penerapan teknologi dalam bidang finansial. Apa itu FinTech? dan bagaimana kesiapan restoran dalam mengadopsi FinTech?

Pengertian atau definisi FinTech

Berdasarkan definisi yang dijabarkan oleh National Digital Research Centre (NDRC), FinTech adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut suatu inovasi terbaru di bidang jasa finansial. Kata FinTech berasal dari penggabungan dua kata, yaitu financial dan technology. 


Siapkah restoran Anda mengadopsi FinTech?

Sesuatu yang baru memang terkadang diragukan banyak orang, terutama dalam sisi kenyamanan dan keamanan. Seperti halnya saat pertama kali orang mulai mengenal komputer di era 80-an. Saat itu lebih banyak orang yang meragukan komputer dan lebih memilih mesin tik. Namun lambat laun, komputer lah yang kini hadir di setiap sudut ruang kerja.

Kemudahan dalam proses pembayaran merupakan salah satu nilai lebih yang pasti dicari dan dipertimbangkan oleh konsumen. Dengan demikian, mengadopsi inovasi FinTech dalam hal pembayaran merupakan hal baik yang harus dipersiapkan sedari sekarang.

Pembayaran konvensional dengan cara bertransaksi langsung di depan kasir menggunakan uang tunai mungkin masih dilakukan konsumen hingga sekarang, namun bagaimana dengan 5 atau 10 tahun ke depan? akankah tetap sama?. Bukankah munculnya FinTech sudah bisa menjadi gambaran transaksi pembayaran di masa depan?

Contoh FinTech dalam pembayaran

Banyak start-up FinTech di Indonesia yang merupakan perusahaan pembayaran, misalnya Doku dan Kartu Ku. Beberapa Perusahaan perbankan  dan seluler juga sudah mulai mengadopsi FinTech, seperti Sakuku BCA dan Dompetku dari Indosat Ooredoo.

Jadi, kapan Restoran Anda akan mengadopsi FinTech dalam transaksi pembayaran di restoran Anda?


Demikian artikel tentang FinTech dan kesiapan Restoran Dalam Mengadopsi Inovasi Sistem Pembayaran di era digital. Semoga bermanfaat.

Syarat atau Kualifikasi yang Dibutuhkan untuk Menjadi Supervisor Restoran

Ada beberapa syarat atau kualifikasi yang dibutuhkan untuk dapat menduduki jabatan atau posisi Supervisor di restoran. Syarat atau kualifikasi ini dijadikan acuan oleh HRD restoran dalam merekrut atau mengangkat seseorang menjadi Supervisor restoran. Apa saja syarat atau kualifikasi tersebut?, Anda akan menemukan jawabannya di artikel ini. Selamat membaca.


Berikut adalah beberapa syarat atau kualifikasi yang dibutuhkan untuk menjadi Supervisor di restoran :

1. Memiliki pengalaman di bidang restoran minimal 2 tahun
Pengalaman adalah hal terpenting dan paling dibutuhkan untuk menjadi seorang Supervisor restoran. Pelamar kerja yang memiliki pengalaman sebagai Captain Waiter atau Supervisor restoran umumnya lebih mudah diterima. Masa kerja 2 tahun di sebuah restoran dianggap masa yang cukup bagi seseorang untuk memahami tugas dan pekerjaan di restoran.

2. Berjiwa pemimpin
Banyak orang yang bisa bekerja dengan baik sendirian, tapi saat ia diangkat sebagai pemimpin, ia tak bisa mengarahkan karyawan lain dan tetap asyik bekerja sendiri. Seorang Supervisor harus memiliki jiwa memimpin (leadership) yang baik.

3. Berpenampilan menarik
HRD restoran pasti akan mencari seorang calon Supervisor yang memiliki penampilan menarik atau good looking. Paras yang tampan atau cantik, bersih, rapi dan murah senyum adalah kandidat yang paling berpotensi diterima sebagai Supervisor restoran.


4. Pandai berkomunikasi
Kemampuan berkomunikasi secara baik sangat diperlukan untuk menjadi seorang Supervisor restoran. Tak hanya karena ia harus melakukan ramah tamah dengan pelanggan atau memberikan penjelasan tertentu terkait restoran, tapi ia juga harus mampu memberikan pengarahan kepada karyawan serta memberikan informasi dan motivasi pada saat briefing karyawan.

5. Lulus SMK atau sederajat
Lulusan SMK Jurusan Pariwisata atau Perhotelan adalah yang paling banyak dicari. Ada juga tamatan SMA yang bisa menjadi Supervisor di restoran, namun umumnya mereka diangkat atau dipromosikan menjadi Supervisor setelah beberapa tahun bekerja di restoran serta dianggap berprestasi. 

6. Bisa komputer
Banyak tugas administrasi yang harus dikerjakan oleh seorang Supervisor restoran, antara lain membuat jadwal kerja dan rekap gaji karyawan. Paling tidak, seorang Supervisor harus bisa menjalankan program MS. Office seperti Excel dan Word.

7. Menguasai bahasa asing
Seringkali restoran kedatangan tamu turis yang tak bisa berbahasa Indonesia. Supervisor harus bisa memberikan layanan terbaik kepada setiap pelanggan, termasuk kepada turis asing. Bahasa Inggris adalah bahasa utama yang harus dikuasai. Saya pernah mendapati Supervisor yang menjauh pergi begitu ada tamu turis yang masuk dan membiarkan waiter yang tak mampu berbahasa Inggris melakukan taking order. Hasilnya, pesanan tidak sesuai dan sang turis kecewa.

Selain beberapa hal di atas, HRD restoran biasanya menambahkan kata-kata ajaib dalam iklan lowongan kerja untuk Supervisor restoran : "bersedia ditempatkan di cabang mana pun dan mampu bekerja di bawah tekanan". Kata-kata tersebut sebenarnya lebih ditujukan untuk mengingatkan tentang komitmen kerja karyawan sejak awal, agar nantinya Supervisor tidak mengelak atau mengajukan keberatan saat ia dimutasi ke cabang lain dan bersedia bekerja keras mencapai target perusahaan.

Jenis kelamin  dan usia Supervisor
Mengenai jenis kelamin, baik pria maupun wanita tetap bisa menjabat sebagai seorang Supervisor restoran. Sedangkan untuk usia, yang paling banyak dicari adalah rentang usia 25 hingga 32 tahun. Rentang usia tersebut dipandang sebagai usia paling produktif untuk seorang Supervisor. Di restoran, seorang Supervisor bisa bekerja hingga usia 45 tahun.

Di restoran tertentu, Anda juga akan menjalani Psikotes dan Tes Kesehatan saat melamar kerja sebagai seorang Supervisor restoran.

Anda juga bisa membaca artikel : Tugas Supervisor Restoran

Demikian artikel tentang syarat atau kualifikasi yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Supervisor di restoran. 

Mari bagikan atau share artikel ini ke media sosial jika artikel ini bermanfaat bagi Anda dan orang lain. Anda juga bisa bertanya atau memberikan pendapat mengenai artikel ini dengan menuliskannya di kolom komentar. Semoga bermanfaat. 
Copyright © Restofocus | Powered by Blogger

Top