Portal Lengkap Dunia Restoran, Konsultasi dan Training SDM Restoran

Uang Tip Senilai Rp 16,1 Juta untuk Sang Koki

Kecintaan terhadap masakan seorang koki ternyata bisa membuat seseorang memberikan hal yang bisa dikatakan istimewa. Bagaimana tidak, seorang pengunjung restoran dengan senang hati menemui koki restoran yang memasak makanannya dan memberikan uang tip sebesar 1000 Poundsterling, atau senilai 16,1 Juta Rupiah.

Sumber gambar : Tempo.co

Dilansir dari Tempo.co, restoran bernama The Indian Tree di Portadown, Northern Ireland, Inggris, kedatangan seorang pengunjung yang ternyata merupakan penggemar salah satu koki di restoran tersebut. Sang koki yang disapa Babu, bergabung dengan restoran The Indian Tree sejak awal berdirinya restoran tersebut pada tahun 2015.

”Dia menjadi pelanggan setia Babu sejak 2002, dan sejak dia pindah ke sini, saat dia pulang ke rumahnya di Belfast, ia menelepon dan melihat apa masakan Babu. Lalu dia datang dan balik ke rumah,” kata Luna Ekush -seorang staf di restoran The Indian Tree- sebagaimana dikutip dari Mirror.co.uk, pada 12 Januari 2017.

Menurut Luna, pengunjung restoran yang murah hati itu adalah seorang pengusaha yang tinggal di luar negeri. Luna juga sempat terkaget-kaget oleh besarnya uang tip yang ditinggalkan. Sang pengunjung membayar 79,05 pound sterling atau sekitar Rp 96 ribu untuk makanan yang dipesan dan memberikan tip sebesar 1.000 pound sterling atau sekitar Rp 16,1 juta! 

Saat datang ke restoran, pengusaha itu menemui Babu untuk mengucapkan terima kasih. Lalu ia membayar biaya makannya dan memberikan tip yang dikatakannya sebagai “kado mungil”. 

Lewat pesan di iPad, pengusaha itu menuliskan: "Hi Babu dan Luna, terima kasih untuk makananmu yang luar biasa, dan mohon terima kado mungil ini untuk membantu restoran Anda. Sampai bertemu lain waktu".

Luna menyatakan bangga pada Babu, koki yang disayangi pelanggan restoran. Babu pun hampir tak mempercayai peristiwa itu. “Dia sangat bangga tentang itu, dia tidak dapat mempercayainya, ini semacam penghargaan besar” ujar Luna.

Anda juga bisa membaca artikel : 8 Hal yang Membedakan Restoran dengan Rumah Makan

Demikian artikel tentang uang tip senilai Rp 16,1 juta dari pelanggan untuk sang koki. Semoga bermanfaat.

8 Hal yang Membedakan Antara Restoran dengan Rumah Makan

Beberapa hari yang lalu, saya ditanya oleh salah satu kenalan baru saya di Medan -Pak Rony- tentang perbedaan antara restoran dan rumah makan. Sebuah pertanyaan yang cukup membuat saya berpikir dalam karena selama ini -tanpa saya sadari- saya beranggapan bahwa restoran dan rumah makan tak ada bedanya, yaitu sama-sama tempat yang menjual atau menyediakan makanan.

Saya juga sempat berpikir bahwa perbedaan antara restoran dan rumah makan hanya terletak pada penyebutan saja, tepatnya restoran merupakan kata serapan dari bahasa Inggris, yaitu "restaurant" yang juga merupakan serapan dari bahasa Perancis, "restaurer". Sementara sebagian masyarakat Indonesia lainnya tetap menyebutnya sebagai rumah makan.


Namun jika kita menilik lebih dalam mengenai perbedaan antara restoran dan rumah makan, maka kita akan mendapati 8 hal yang sangat berbeda. Berikut adalah 8 hal yang membedakan antara restoran dengan rumah makan :

1. Standarisasi
Sebuah tempat makan bisa disebut sebagai restoran jika memenuhi beberapa standar tertentu, misalnya standar kualitas menu, standar pelayanan, standar penampilan karyawan dan lain-lain. Cukup sulit untuk mendapatkan label restoran di Perancis, meskipun di sana banyak tempat makan yang  memiliki menu yang populer dan digemari banyak orang. Sementara, rumah makan hanya sebatas sebuah tempat makan pada umumnya tanpa terikat standar tertentu.

2. Sistem manajemen
Restoran memiliki sistem manajemen yang telah tersusun secara jelas. Ada aturan-aturan tertentu yang mengikat di dalam pengelolaan suatu restoran. Sedangkan rumah makan tidak memiliki aturan-aturan yang baku dan biasanya dikelola oleh sebuah keluarga.

3. Ukuran
Pada dasarnya, ukuran interior sebuah restoran selalu lebih luas. Sangat jarang ditemukan restoran dengan ukuran bangunan yang sempit. Di sisi lain, kebanyakan rumah makan justru berukuran kecil. Meskipun ada juga rumah makan yang luas bangunannya melebihi ukuran restoran.

4. Penyajian makanan
Perbedaan mencolok antara restoran dengan rumah makan terletak pada kesiapan menu-menu makanan yang dijualnya. Di rumah makan, seluruh hidangan sudah dimasak sebelumnya, sehingga saat ada pembeli yang datang, pelayan tinggal mengantarkan hidangan sesuai pesanan. Sebaliknya, menu-menu makanan di restoran masih dalam kondisi mentah atau setengah matang. Ketika pembeli datang, makanan harus diolah atau dimasak terlebih dulu untuk kemudian disajikan.


5. Konsep tempat
Saat kita berbicara tentang restoran, tentu akan terbayang suatu tempat makan yang mewah. Memang benar, kebanyakan desain interior di restoran selalu diberi sentuhan kemewahan sehingga tampak elegan dan glamor. Sedangkan pada rumah makan, pemiliknya lebih banyak yang mengusung konsep sederhana.

6. Sasaran market
Restoran merupakan tempat makan yang lebih ditujukan untuk kalangan menengah ke atas. Hal inilah yang mendasari kenapa di sebuah restoran juga terdapat fasilitas-fasilitas tambahan yang eksklusif, seperti free Wifi, karaoke, kursi pijat dan kondisi ruangan yang nyaman. Sementara, target pemasaran rumah makan adalah masyarakat menengah ke bawah.

7. Biaya PPN
Saat memesan hidangan di sebuah restoran, kita akan dikenakan biaya PPN yang besar rata-ratanya adalah 10% dari harga menu. Jadi, kita harus membayar lebih dari harga menu yang dipesan. Bahkan terkadang di beberapa restoran tertentu juga menerapkan service charge atau biaya pelayanan. Sementara, ketika kita menyantap hidangan di rumah makan, kita tidak akan dikenai biaya PPN.

8. Modal
Hal ini sempat disampaikan oleh pak Rony saat saya juga meminta apa pendapat beliau soal perbedaan antara restoran dengan rumah makan. Karena sebuah restoran menawarkan kualitas menu dan layanan yang baik, fasilitas yang memadai bahkan memanjakan pengunjung, memiliki interior yang lebih besar dan elegan, tenaga dan sarana promosi yang kuat serta lain-lain, maka diperlukan modal yang lebih besar untuk menjalankan sebuah usaha restoran dibandingkan menjalankan usaha rumah makan.

Dengan mengacu kepada beberapa hal di atas, maka kita dapat membedakan apakah sebuah tempat makan tertentu bisa disebut sebagai restoran atau rumah makan saja. 


Demikian artikel tentang 8 hal yang membedakan antara restoran dengan rumah makan. Semoga bermanfaat.

Bolehkah Waiter Meletakkan Sendok dan Garpu/Pisau di Meja Tamu Sebelum Makanan Disajikan?

Cukup lama saya tidak membahas mengenai masalah service, kali ini ada sebuah pertanyaan yang datang dari salah satu pembaca Restofocus dari Semarang -Pak Farid- yang bertanya mengenai apakah sendok dan garpu/pisau harus diberikan bersamaan pada saat Waiter menyerahkan makanan, atau dapat diserahkan/diletakkan di meja tamu sebelum makanan disajikan?

Umumnya sendok dan garpu/pisau diberikan bersamaan dengan makanan yang disajikan, namun sebenarnya adalah jauh lebih baik dan lebih disarankan untuk memberikan peralatan makan seperti sendok, garpu, pisau dan condiment lainnya sebelum makanan atau pesanan tamu disajikan di atas meja. 


Memberikan atau meletakkan peralatan makan berupa cutleries (sendok, garpu, pisau, soup spoon dan lain-lain) sebelum makanan atau pesanan tamu disajikan memiliki beberapa keuntungan, antara lain :
  • Menghindari terjadinya complaint tamu akibat Waiter lalai atau lupa memberikan sendok dan garpu/pisau saat tamu akan makan
  • Melatih kedisiplinan Waiter untuk selalu memberikan sendok dan garpu/pisau setiap kali selesai taking order
  • Waiter dapat mengecek secara teliti apakah cutleries (sendok dan garpu/pisau) yang akan diberikan kepada tamu sesuai standar. Seringkali karena terburu-buru mengambil cutleries bersamaan dengan saat menu/makanan keluar dari kitchen, Waiter tak lagi sempat melakukan pengecekan standar cutleries yang akan diberikan.
Banyak terjadi kasus dimana Waiter lupa memberikan sendok dan garpu/pisau saat tamu sudah akan makan sehingga tamu harus memanggil waiter  untuk meminta sendok dan garpu/pisau. Terkadang keadaan tersebut diperparah dengan lamanya Waiter kembali ke meja tamu untuk menyerahkan sendok dan garpu/pisau yang diminta. Tamu yang sudah sangat lapar pasti akan marah.

Pengecekan standar cutleries juga penting, sendok dan garpu/pisau yang tidak bersih atau bahkan berkarat akan mengundang complaint para tamu atau pengunjung restoran.

Dengan demikian, memberikan atau meletakkan sendok dan garpu/pisau sebelum keluarnya makanan memang boleh dilakukan bahkan sangat disarankan.

Anda juga bisa membaca artikel : Standar Gelas dan Alat Saji di Restoran

Demikian artikel tentang bolehkah Waiter meletakkan sendok dan garpu/pisau di meja tamu sebelum makanan disajikan atau diantar. Semoga bermanfaat.

Test Cook untuk Chef Saat Melamar Kerja di Restoran

Untuk menempati posisi Chef di restoran, seseorang yang melamar kerja sebagai Chef umumnya akan diminta oleh manajemen restoran untuk melakukan ujian memasak atau test cook. Tujuannya tak lain untuk melihat apakah benar apa yang disampaikan pelamar saat interview bahwa ia bisa memasak ini dan itu. Test cook juga akan membuktikan bagaimana kualitas rasa dan penyajian menu yang dimasak oleh calon Chef.


Ketentuan test cook

Baik di hotel maupun restoran, seorang calon Chef akan diminta untuk melakukan test cook. Adapun mengenai berapa jumlah menu yang harus dimasak dan menu apa saja yang harus dimasak sangat tergantung kepada :

1. Presentasi calon Chef 
Biasanya, seorang pelamar kerja yang melamar untuk posisi Chef akan menuliskan di lembar tersendiri  pada berkas lamaran yang ia ajukan mengenai jenis menu apa saja yang ia kuasai, misalnya ia menguasai Indonesian food atau menu nusantara, Chinese food, Korean food dan lain-lain.

Apa yang dituliskan pelamar pada berkas lamaran tentu akan menjadi bahan pertimbangan bagi HRD yang kemudian akan menanyakannya kembali pada sesi interview. Jika pelamar melakukan presentasi dengan baik, maka besar kemungkinan ia juga akan diminta untuk melakukan test food untuk menu-menu yang ia presentasikan.

2. Keinginan manajemen restoran
Banyak tujuan sebuah restoran atau hotel merekrut Chef, bisa karena restoran sedang mengalami kekosongan posisi Chef sehingga harus cepat mencari penggantinya, atau bisa juga karena restoran tersebut berkeinginan untuk mengembangkan menu-menu yang dijualnya, atau lebih tepatnya ingin menjual menu baru.

Jika manajemen restoran berkeinginan untuk menjual menu nusantara, maka manajemen -melalui HRD- akan meminta calon Chef untuk melakukan test cook menu nusantara.

Mengenai berapa jumlah menu yang harus dimasak saat test food biasanya akan dibicarakan antara kedua belah pihak, yaitu antara calon Chef dan HRD. Dalam hal ini calon Chef bisa saja meminta untuk mengurangi jumlah menu yang harus dimasak dalam satu sesi uji test cook.


Demikian artikel tentang test cook untuk Chef saat melamar kerja di restoran. Artikel ini ditulis sebagai jawaban atas pertanyaan salah satu pembaca Restofocus, -Mas Beno di Jakarta- yang rencananya akan melakukan test cook di sebuah hotel. Semoga bermanfaat.

Berapa Usia Standar untuk Waiter, Kasir, Supervisor, Manager, Koki, Chef dan Barista di Restoran?

Ada beberapa bagian atau divisi di restoran, seperti divisi Service, divisi Product, divisi HRD/PSDM, divisi Marketing, divisi Administrasi dan divisi Maintenance. SDM (Sumber Daya Manusia) yang bekerja pada divisi-divisi tersebut terikat pada aturan-aturan perusahaan yang telah ditetapkan, termasuk aturan mengenai usia standar, yaitu usia dimana SDM dapat bekerja pada divisi tertentu. Batasan usia standar masing-masing divisi ini berbeda-beda sehubungan dengan tingkat kebutuhan restoran.


Usia standar masing-masing divisi di restoran

Usia standar ditetapkan untuk menjaga kualitas kerja karyawan dan mempertahankan kualitas layanan restoran sesuai dengan harapan manajemen restoran. Berikut adalah usia standar masing-masing divisi yang ada di restoran :

  • Waiter, usia 19 hingga 28 tahun
  • Kasir, usia 19 hingga 28 tahun
  • Captain Waiter/Captain Service, usia 22 hingga 35 tahun
  • Supervisor, usia 22 hingga 45 tahun
  • Manager, usia 25 hingga 55 tahun
  • HRD, usia 25 hingga 60 tahun
  • Accounting, usia 22 hingga 55 tahun
  • Admin/Cheker, usia 19 hingga 55 tahun
  • Koki, usia 19 hingga 45 tahun
  • Chef, usia 22 hingga 55 tahun
  • Marketing, usia 19 hingga 35 tahun
  • Maintenance, usia 22 hingga 55 tahun
  • Gardener, usia 22 hingga 60 tahun
Catatan : usia standar yang dituliskan di atas hanyalah berdasarkan pengamatan dan pertimbangan penulis sendiri selama bekerja di beberapa restoran. Tentu saja Anda bisa merubah ketentuan standar usia SDM sesuai dengan kondisi dan kebutuhan restoran Anda.


Demikian artikel tentang berapa usia standar untuk Waiter, Kasir, Supervisor, Manager, Koki, Chef dan Barista di Restoran?. Semoga bermanfaat.

Mengenal Faktor Kenaikan Gaji Karyawan Berdasarkan General Increase dan Merit Increase di Restoran

Umumnya, ada 2 faktor yang dijadikan dasar dalam memperhitungkan kenaikan gaji karyawan, yaitu General Increase dan Merit Increase. Keduanya sangat memudahkan manajemen dalam menentukan kebijakan kenaikan gaji karyawan, sekaligus menghindari terjadinya kesalahan, misalnya memberikan kenaikan gaji kepada orang/karyawan yang tidak tepat.


Pengertian General Increase dan Merit Increase

General Increase adalah kenaikan gaji untuk semua  karyawan yang dilakukan setiap 1 tahun sekali menyesuaikan kebijakan upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah, baik UMP (Upah Minimum Propinsi) atau UMK (Upah Minimum Kabupaten/ Kota).

Merit Increase adalah kenaikan gaji berdasarkan prestasi masing-masing karyawan. Dalam Merit Increase, tidak semua karyawan bisa mendapatkan kenaikan gaji karena memang didasarkan pada penilaian prestasi karyawan. 

Adanya Merit Increase membuat besaran kenaikan gaji yang diterima karyawan menjadi berbeda-beda, karenanya dalam perusahaan yang menerapkan Merit Increase, gaji karyawan junior bisa saja lebih besar daripada gaji karyawan senior yang lebih dulu bergabung atau telah lama bekerja.

Penerapan General Increase dan Merit Increase di Restoran

Untuk menerapkan General Increase dan Merit Increase, manajemen restoran dapat melakukan hal sebagai berikut :

1. Untuk General Increase, manajemen bisa mengacu kepada berapa besar kenaikan upah dari UMP/UMK tahun lalu dengan UMP/UMK tahun ini.

2. Untuk Merit Increase, manajemen bisa mengacu kepada penilaian kinerja masing-masing karyawan selama 1 tahun. Untuk keperluan ini, sangat disarankan untuk memiliki buku laporan/raport karyawan dari masing-masing kepala divisi. 

Selain itu, Merit Increase juga bisa dilakukan dengan mengadakan ujian tertulis untuk mengetahui seberapa baik pemahaman karyawan terhadap perusahaan dan pekerjaannya, dengan demikian, ujian atau tes tertulis untuk Merit Increase dibagi menjadi 2, yaitu :
  • Ujian/tes PSDM (Pendidikan Sumber Daya Manusia). Tes ini ditujukan untuk mengetahui seberapa baik pemahaman karyawan mengenai perusahaan dan aturan-aturan yang berlaku dalam perusahaan, misalnya mengenai aturan cuti, aturan disiplin, hal-hal yang mengakibatkan SP dan pemecatan serta hal lain yang berhubungan dengan materi HRD atau PSDM.
  • Ujian/tes bidang. Untuk karyawan yang bekerja di bagian service, maka diberikan tes mengenai bidang service, begitu juga dengan karyawan yang ditempatkan di bagian kitchen, barista, marketing, admin dan maintenance, semua diberikan tes sesuai bidangnya masing-masing.
3. Hasil penilaian dari Merit Increase kemudian ditambahkan dengan besaran kenaikan General Increase. Dari sinilah manajemen restoran kemudian menentukan besaran kenaikan gaji untuk setiap karyawan.

Merit Increase sering memicu kecemburuan

Sering saya mendengar adanya karyawan yang bertanya atau bahkan protes, baik secara terbuka maupun hanya berkelu kesah dengan sesama karyawan mengenai kenaikan gaji yang dianggap tidak adil karena tidak sama besar. Hal ini adalah wajar. Yang perlu kita berikan hanyalah pemahaman kepada karyawan bahwa Merit Increase diberikan sebagai apreasiasi kepada karyawan yang telah memberikan prestasi dan kontribusi yang baik untuk perusahaan. Diharapkan, Merit Increase akan memicu karyawan untuk saling berlomba-lomba meraih prestasi.

Hal penting lainnya adalah menanamkan pemahaman kepada semua karyawan bahwa masalah gaji adalah sebuah kerahasiaan yang harus dijaga.

Lepas dari kecemburuan dan lainnya, Merit Increase secara efektif mampu memberikan kenaikan gaji yang sepadan kepada karyawan yang memang berhak mendapatkannya. 


Demikian artikel tentang mengenal faktor kenaikan gaji karyawan berdasarkan General Increase dan Merit Increase di Restoran. Semoga bermanfaat.

Karyawan Bekerja Seperti Tanpa Semangat? Apa yang Salah?

Ada salah satu pembaca Restofocus yang bertanya mengenai kondisi cafe miliknya, dimana para karyawan bekerja seperti tanpa semangat, tanpa gairah kerja. Hal seperti ini sebenarnya bisa kita temui di banyak perusahaan, cafe atau restoran. Apa sebenarnya yang terjadi dengan para karyawan ini, apa yang salah?.

Karyawan adalah pelanggan internal bisnis kita


Hakikatnya, ada dua jenis pelanggan dalam usaha kita, yaitu pelanggan internal dan pelanggan eksternal. Pelanggan internal tak lain adalah karyawan kita atau orang-orang yang bekerja untuk bisnis kita, sedangkan pelanggan eksternal adalah pelanggan dari luar, yaitu konsumen atau orang-orang yang membeli atau menggunakan produk bisnis kita.

Pelanggan tak akan merasa puas jika karyawan tidak puas

Jika kita ingin memuaskan pelanggan, maka yang lebih dulu harus kita puaskan adalah karyawan kita, dalam arti memenuhi segala kebutuhannya dengan meningkatkan kesejahteraan karyawan melalui pemberian gaji dan fasilitas yang baik, dan jangan lupa dengan kenyamanan karyawan dalam bekerja.


Jika kita berhasil membuat karyawan tersenyum, maka karyawan akan membuat pelanggan juga tersenyum, tersenyum karena puas. Tapi jika kita hanya menuntut karyawan untuk memuaskan pelanggan dengan layanan terbaik, sementara kita lupa untuk memuaskan mereka, maka jangan heran jika mereka akan bekerja dengan setengah hati, tanpa semangat, seperti tanpa nyawa, tanpa kecintaan kepada profesi atau pekerjaan mereka.

Bekerja karena cinta dan bekerja karena takut

Saat ikatan emosi telah terjalin antara pemilik atau manajemen dengan karyawan, maka bibit cinta pekerjaan telah disemaikan. Karyawan akan bekerja dengan cinta, sense of belonging menjadi nafas. Saat karyawan telah bekerja dengan cinta, maka pengawasan ketat tak lagi diperlukan. Target, motivasi, perlakukan baik dan penghargaan adalah lebih dari cukup bagi karyawan.

Namun jika karyawan hanya bekerja karena takut, maka mereka hanya bekerja dengan baik saat diawasi, tersaruk-saruk saat melihat ada owner, bekerja hanya karena takut dimarahi atau kena pecat. Bekerja dalam kondisi takut, hanyalah menunggu waktu untuk mendapatkan gaji dan pekerjaan baru.

Internal Quality Service (IQS)

Dalam manajerial, dikenal dengan Internal Quality Service (IQS) atau pelayanan ke dalam, maksudnya adalah pelayanan kepada karyawan kita. IQS sering diabaikan banyak pemilik bisnis dan kemudian mereka mendapati kinerja karyawan tak sesuai dengan harapan mereka. Ini adalah masalah klasik yang banyak dihadapi para pemilik bisnis, termasuk cafe dan restoran.

Peningkatan kesejahteraan karyawan, perlakuan yang baik dan aturan-aturan yang menjunjung tinggi hak-hak karyawan adalah jawabannya.

Menjenguk karyawan yang sakit, merayakan hari ulang tahun karyawan, memberi pujian dan penghargaan bagi karyawan berprestasi adalah beberapa contoh dari IQS yang bisa kita berikan sebagai bentuk kepedulian dan perhatian kita kepada karyawan.

Anda juga bisa membaca artikel : Internal Quality Service

Demikian artikel tentang karyawan bekerja seperti tanpa semangat, apa yang salah?. Semoga bermanfaat.
Copyright © Restofocus | Powered by Blogger

Top