--> Skip to main content

Chef Sombong, Sudah Bukan Zamannya

Berdiri dengan tangan dilipat di dada, perkataannya harus selalu didengar semua karyawan bahkan management dan owner, ingin selalu dihargai karena ilmunya, dan sekaligus sombong karena posisinya sebagai seorang chef di restoran. Ya, banyak chef yang berlaku angkuh dan sombong. Tapi, itu dulu, saat belum begitu banyak orang yang berprofesi sebagai seorang chef atau juru masak tingkat master. Jika masih kita temui ada seorang chef yang sombong, maka harus kita katakan kepadanya : " udah ga jaman!" alias sudah bukan zamannya lagi untuk sombong.

Seorang chef memang biasanya berilmu tinggi, bergaji besar, dan didengar perkataannya oleh semua orang. Hal inilah yang kemudian menyebabkan banyak chef yang menjadi sombong. Padahal dalam dunia kerja termasuk dalam dunia kuliner seperti usaha restoran, kerja sama lah yang paling penting. Keilmuan yang tinggi tidak menjamin operasional berjalan lancar jika sang karyawan termasuk chef tidak bisa bekerja sama dengan baik dengan para koki atau staf kitchen lainnya karena sikapnya yang sombong.


Untuk itulah pada saat rekrut karyawan termasuk dalam hal rekrut chef restoran, karakter positif lah yang harus lebih diprioritaskan. Karakter positif akan membuat karyawan tersebut mampu belajar lebih cepat karena ia mau mendengarkan kata orang dan bukan hanya ingin didengarkan. Ia akan bisa merangkul karyawan lainnya dengan sikap positif yang ia miliki. Jika semua karyawan sudah menaruh respect tinggi dan kepercayaan, maka di situlah kerja sama bisa terbangun dengan baik dan operasional restoran bisa berjalan dengan lancar..

Sebenarnya tidak semua chef bersifat sombong, banyak juga chef yang tetap rendah hati dengan ilmu nya yang menjulang tinggi. Dan inilah chef yang sejati. Dimana ia adalah master atau guru bagi karyawan lain yang bisa mengajari orang lain tentang berbagai ilmu memasak dengan baik. Chef seperti inilah yang harus kita cari, kabar buruknya adalah cukup sulit menemukan yang seperti ini. Namun, cukup sulit juga berarti masih bisa diusahakan. 

Berdasarkan pengalaman saya dalam merekrut seorang chef, hanya ada 2 dari 10 orang chef yang saya nilai rendah hati dengan ilmu yang tinggi. 8 orang lagi diantaranya bersikap sebaliknya. Namun saya tetap bisa mendapatkan  dan memilih 1 orang yang terbaik untuk ditetapkan sebagai seorang chef restoran.

Pengusaha restoran juga sudah banyak yang belajar dari kesalahan mereka dalam merekrut chef. Hal ini biasanya terjadi saat pengusaha terlalu percaya dengan presentasi mereka yang luar biasa saat sesi interview, namun ternyata tidak sesuai dengan apa yang bisa dilakukannya saat sudah bekerja.

Kita sangat membutuhkan dan menghargai kinerja seorang chef yang baik. Darinyalah menu-menu berkualitas dihasilkan. Dan kita tidak akan memilih sorang chef yang sombong karena saat ini sudah bukan zamannya untuk sombong. Sekarang adalah saat untuk memberikan kinerja terbaik dan berprestasi. Semoga bermanfaat.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda. Komentar yang berisi tautan dan hal-hal yang terkait SARA tidak akan ditampilkan.
Buka Komentar
Tutup Komentar